Orang Miskin Dilarang Sekolah?



Orang Miskin Dilarang Sekolah?


(Kompas, Senin 13 Juni 2005)

MENARIK mendengar cerita Anton, seorang teman yang bekerja di salah satu tempat pegadaian di Jakarta Barat.

DENGAN setengah bercanda, ia menceritakan kepada penulis tentang data yang diperolehnya, di mana jumlah orang yang pergi ke kantor pegadaian melonjak bersamaan dengan masa penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah.

Cuplikan percakapan Anton dengan penulis ini dikatakan menarik dan signifikan untuk disimak lantaran mengandung dua alasan utama. Pertama, cerita itu sangat "mengharukan" karena hanya memberi satu kesimpulan bahwa betapa di negeri ini sebuah bangku sekolah itu harus "dibeli" dengan harga yang mahal, yang begitu berat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.

Bagaimanapun, mendaftar masuk sekolah pada saat ini tidak semudah dan semurah 5-15 tahun lalu. Untuk masuk SD swasta di Jakarta, misalnya, orangtua diharuskan terlebih dahulu membayar uang pangkal Rp 4 jutaan. Bahkan lebih. Itu baru masuk SD. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, uang pangkalnya juga akan semakin tinggi. Dan lagi-lagi, itu baru perkara uang pangkal. Tagihan lainnya yang mencekik leher orangtua adalah SPP yang berkisar antara Rp 150.000-Rp 700.000 per bulan (tergantung status dan favorit tidaknya sebuah sekolah), uang pakaian seragam, uang buku, uang kegiatan, dan tagihan lainnya dari sekolah. Begitu mahalnya biaya yang dibutuhkan, maka sekolah akhirnya hanya bisa dimasuki mereka yang berduit semata, sedangkan mereka yang berekonomi lemah terpaksa harus gigit jari dan mata melotot melihat mereka yang menikmati ceriahnya bangku sekolah.

Kedua, cerita yang sama, juga memberi kita "rasa takjub" sebab ada kegigihan yang luar biasa dari para orangtua untuk menyelamatkan masa depan anak mereka di sebuah tempat bernama sekolah. Bagi orangtua, sekolah tampaknya masih dijadikan tempat yang bisa mengubah nasib anak-anak mereka. Rasa takjub yang sama akan kita saksikan jika kita berlibur di desa-desa pada saat liburan sekolah. Ternyata di sana juga tidak sedikit orangtua yang disibukkan dengan menjual sawah dan berbagai ternak untuk biaya sekolah anaknya.

Begitulah kenyataan ini hampir menjadi kalender tetap yang tersembunyi di balik kalender pendidikan nasional kita. Cuplikan cerita itu menghadirkan satu pertanyaan menggelitik; masih adakah sekolah bagi mereka yang miskin di negeri ini?

KISAH "mengharukan" dan "menakjubkan" di atas sepertinya memperjelas terminologi bahwa "orang miskin di negeri ini dilarang sekolah". Dari hari ke hari kaum miskin makin kehilangan hak-haknya yang telah dirampas oleh pembangunan yang tunduk pada pasar. Kian hari jumlah orang miskin kian bertambah, sedangkan kekuasaan makin menjauh dari mereka.

Semenjak neoliberalisme menjadi program utama yang dianut bangsa ini, sejak itu juga orang miskin semakin sulit untuk menikmati pendidikan, pelayanan kesehatan, tempat tinggal yang memadai, dan pekerjaan yang layak. Neoliberalisme sebagai ideologi dunia seolah telah sukses meluluhlantakkan pertahanan hidup orang miskin untuk berpendidikan.

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa pendidikan model pasar telah menjadi mesin produksi yang harus bekerja terus-menerus dengan logika "efektivitas dan efisiensi" untuk menciptakan "generasi intelektual instan" yang serba seragam, termasuk seragam dalam cara pemikirannya. Model pendidikan seperti ini kemudian mengenyampingkan sebuah proses pendidikan yang di dalamnya terdapat titik-titik pencerahan dan pembebasan manusia dari keterkungkungan. Hasil dari proses pendidikan dengan logika efektivitas dan efisiensi itu adalah hadirnya para koruptor dan munculnya manusia yang berwatak kasar.

Perlu dipertanyakan kemudian adalah komitmen pemerintah mengenai kebijakan di bidang pendidikan. Selama ini, sangat terasa janggal di mana subsidi pendidikan lebih kecil daripada subsidi militer. Hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah lebih bangga dan senang dengan kekerasan daripada kecerdasan warga negaranya yang bisa muncul melalui pendidikan.

Sekadar perbandingan saja, kalau kita menengok kebijakan Pemerintah Republik Rakyat China (RRC), misalnya, di sana pemerintahnya mampu membiayai 5.000-10.000 mahasiswa untuk belajar ke Eropa. Hal yang sama dilakukan oleh Perdana Menteri Malaysia yang tiap tahun mengirim 50.000 calon doktor, antara lain, ke Inggris dan Amerika. Jumlah seperti itu dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah karena pemerintah di dua negeri ini "melek pengetahuan".

Di negara ini kondisinya malah kebalikannya. Hingga saat ini, hanya mereka yang berkantong tebal yang bisa menikmati pendidikan bermutu di luar negeri. Karena mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk biaya pendidikannya di negeri orang, maka sepulangnya ke Tanah Air para ilmuwan itu berusaha untuk "mengembalikan modal" dengan berbagai cara. Korupsi kemudian menjadi sesuatu hal yang tidak luput dari perilaku mereka. Dan, kasus korupsi miliaran di negeri ini justru banyak dilakukan oleh para intelektual dan akademisi.

Selain pemerintah tidak memberikan perhatian besar pada dunia pendidikan, pemerintah bahkan ikut merusak lembaga pendidikan dengan "menciptakan suasana tidak aman" di dalam negeri. Konflik yang berlarut-larut di banyak daerah dan "tambal sulamnya" kebijakan dalam dunia pendidikan, membuat dunia pendidikan di negeri ini jauh tertinggal dari negara-negara tetangga.

Ekses dari minimnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan maka kini bertebaranlah mental-mental "rapuh" yang muncul dalam perilaku korupsi pada pribadi-pribadi pejabat bangsa ini. Korupsi yang merambah ke semua sektor, termasuk sektor pendidikan sendiri, kini seolah menjadi "benang basah yang sulit ditegakkan". Bahkan, hingga hari ini penyelenggaraan pendidikan sering kali tanpa tahu malu dan basa basi terutama dalam mempraktikkan tindakan tercela dalam berbagai kegiatan sekolah dan proyek-proyek lainnya.

Kini sudah saatnya kebohongan besar seperti ini harus dihentikan dan proses penyadaran bagi masyarakat harus diteriakkan. Bukan pendidikan yang menipu kita selama ini, melainkan pihak-pihak (oknum-oknum) yang memanfaatkan pendidikan untuk meraup laba yang telah menipu masyarakat bangsa ini. Pendidikan telah dipoles cantik dengan gedung-gedung megah dan janji-janji menggiurkan, yang membuat terbatasnya akses masyarakat ke dunia pendidikan.

Hanya dengan pendidikan murah, negeri ini akan diselamatkan. Dengan pendidikan murah, masyarakat akan bergembira menduduki bangku sekolah. Dengan perasaan senang, masyarakat bebas mengungkapkan berbagai kreativitas yang ada dalam dirinya.

Dan, dengan penyelenggaraan pendidikan murah juga akan mudah mengontrol perilaku korupsi yang marak terjadi pada berbagai sektor kehidupan, termasuk dalam sektor pendidikan itu sendiri; karena dana yang sedikit akan mudah diketahui dan dipertanggungjawabkan. Dan, dengan pendidikan murah diskriminasi terhadap orang miskin untuk tidak boleh sekolah bisa dihindarkan. Singkat kata, dengan penyelenggaraan pendidikan murah, orang miskin tidak lagi dilarang untuk sekolah.


Sixtus Tanje, Jakarta Barat

1 komentar:

Jasa Pembuatan Ijazah Terbaik Aman & Terpercaya 2015/2016 said...

(Cerita Sukses Jadi SARJANA Singkat Dengan Membeli Ijazah)
Saya ingin berbagi cerita kepada anda semua khsusnya untuk teman2 yang tdk
memiliki pendidikian yang cukup untuk mendapat pekerjaan yang layak,
,sebelumnya saya perkenalkan nama saya: Riiska Aprilia Putry”, Domisili PROVENSI RIAU tepat-nya di KOTA PEKANBARU.
Tak bisa di pungkiri sayapun dulunya hanya seorang pengangguran. Sulit
sekali dapat pekerjaan, yaaa maklumlah pendidikan saya bisa dibilang
sangat minim cuma tamat SMP. Pertama bekerja saya hanya jadi “Clenin
Servis” di salah satu kantor pemerintahan di PEKANBARU RIAU. Hampir 3
thn saya bekerja disana, jangankan simpanan untuk tabungan untuk
sehari-hari saja sulit. Sempat muncul dipikiran saya dan saya sadar
kalau pekerjaan saya ini tidaklah menjamin masa depan, tentunya teman2
tau semeua, gaji untuk ”Clenin Servis” bisa dibilang di bawah
standar. Untuk makan saja kayak-nya susah ngatur-nya hehe, dan tidak
sengaja saya bertemu dgn teman lama yang juga salah satu pengawai di
instansi pemerintahan di kota PEKANBARU.
Saya pun menceritakan
semua keluh kesah saya selama ini, alhasil saya dianjurkan teman saya
untuk membeli ijazah,,!!! Bukannya senang tapi malahan saya tambah
bingung.... “Beli IJAZAH” maksudnya gimana???? Kemudian temen saya
menceritakan semua perjalan hidupnya selama ini sehingga bisa menjadi
pengawai di salah satu instansi pemerintahan PROV PEKANBARU, dan
ternyata teman saya ini dulunya juga seorang pengaguran, yaa maklumlah
baru tau sihhh lama gk ketemu kira2 ada 10 tahunan dia di
kalimantan..,sayapun menanyakan beli ijazah emang dimana? Dan untuk
keafsahan dan keamananya itu apa benar2 dijamin??????? Teman saya
jawab... Sangat sangat di jamin keafzahamnya dan keamananya... Aman,
legal, terdaftar di universitas, kopertis, dikti, bisa untuk masuk (PNS,
TNI, POLRI)
tak menunggu lama lagi saya langsung buka atau copy link web:http://jasapembuatanijazahamanterpercaya.blogspot.com/
yg diberikan, dan ternyata benar web menawarkan ”JASA pembuatan IJASAH”
itu benar2 ada, dan sangat di jamin keamanan dan ke afsahamnya.
Kemudian saya coba memesan “IJAZAH SMA” dan” S1 fakultas ekonomi”,
dengan melengkapi prosedur dan apministrasi, dan beberapa hari kemudian
IJAZAH sypun clear, IJAZAH asli terdaftar di UNIVERSITAS.
Saya pun jadi sarjana yang singkat, alhamdulillah tahun “2012” saya mendaftar CPNS dan mengikuti test dan lulus jadi PNS.
Puji syukur saya panjatkan
(1) Kehadirat allah atas semua semua rahmat yg diberikan.
(2) Keluarga saya orang tua dan saudara2 saya
(3) Untuk teman2 saya terimakasih untuk suport-rnya.
jadi bagi teman2 yang berpendidikan minim ataukah putus sekolah,
sulit dapat pekerjaan. Bila mana ingin seperti saya jadi SARJANA yg
singkat bisa bekerja di instansi pemerintahan. Silahkan buka atau copy
link web:http://jasapembuatanijazahamanterpercaya.blogspot.com/
Jadi apapun keadaan anda skarang jangan pernah putus asa dan terus
berusaha, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasih jalan, itu adalah kisah
nyata dari saya!!!
Copy Link web:http://jasapembuatanijazahamanterpercaya.blogspot.com/
Cp (Call/SMS) : 0813 1478 7986
A/n Mahmud Ridwan SH M.Hum

Post a Comment

Tanggapan, pesan atau pertanyaan hendaknya disertai dengan identitas (minimal mengisi NAMA dgn men-select bagian Comment as dengan "Name/URL"). Terima kasih

(c) DickyRahardi.Com™, 2006