Oleh :
Dicky Rahardiantoro




LINUX adalah sebuah operating system yang merupakan program open source gratis di bawah lisensi GNU. Untuk memperoleh Linux dan mengistalnya pada PC kesayangan kita, kita tidak perlu repot-repot membeli Linux dengan harga bandrol yang mahal sebagaimana produk Microsoft, karena GNU telah menggratiskan program dan bahkan sampai source code-nya. Tidak hanya itu, anda bahkan diberi keleluasaan untuk mengkopi, menggandakan dan bahkan sampai mengubah-ubah source code-nya.

Di lingkungan kantor/bisnis, Linux juga dapat digunakan sebagai server dan dapat juga sebagai client, tergantung skala kebutuhannya. Dan sekali lagi, itu semua dapat diperoleh dengan bisaya sangat rendah dan bahkan bisa sampai gratis.

Sampai saat ini, Linux dibangun oleh berbagai macam komunitas dan jangan heran apabila banyak sekali distro-distro Linux yang beredar. Mulai dari yang berbayar sampai yang gratis, dari untuk pemula sampai tingkat lanjut, dan biasanya dengan banyaknya distro Linux yang beredar akan membuat orang awam bingung untuk memilih distro. Bayangkan, ada beratus-ratus distro yang tercipta atau bahkan beribu-ribu. Namun perlahan tapi pasti, diantara distro-distro Linux ini ada yang menyamai (atau bahkan) melebihi kemampuan dari Sistem Operasi keluarga raksasa (Microsoft) dan dengan semakin mudahnya dan semakin lengkapnya dukungan Linux pada hardware, besar kemungkinan Linux akan menjadi alternatif (atau bahkan sistem operasi utama di dunia)

Nah jika suatu saat nanti, terdapat distro Linux yang mampu melumpuhkan pasaran Microsoft Windows maka apakah Linux masih konsisten untuk tetap gratis....?
Hmmm...hal ini mungkin perlu kita fikirkan dengan matang dan renungkan

Coba sedikit kita tengok dunia persepakbolaan sebagai bahan perbandingan,
Diantara liga-liga besar yang ada di Eropa sana seperti : Liga Inggris dengan Premier League-nya, Liga Italia dengan Serie-A-nya, Liga Spanyol, Liga Belanda, Liga Jerman dan lain sebagainya; Liga inggris adalah liga eropa yang paling ramai dan paling banyak penggemarnya di seluruh dunia,
Ratusan juta orang yang tersebar di berbagai belahan dunia, sangat gandrung dengan liga inggris ini, bahkan liga inggris bisa melampaui liga Italy yang sempat berada di atas angin beberapa tahun silam.



Pamor liga inggris yang sedang melangit dan mengangkangi liga Italy dan Spanyol pada beberapa tahun silam, nampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh para pebisnis sepakbola dunia khususnya inggris, sehingga saat ini liga inggris tidak bisa ditonton secara gratisan lagi dilayar kaca.

Kita harus mengeluarkan uang Rp 50.000 sampai Rp 200.000 tiap bulannya untuk menikmati laga liga Inggris tersebut ke Astro. Menurut hitung-hitungan yang dilakukan oleh Tabloid BOLA, Astro diperkirakan menggelontorkan uang sebanyak US$50juta untuk mendapatkan hak siar selama tiga musim kompetisi. Kalau dirupiahkan dengan asumsi bahwa satu dollar adalah Rp.10.000,- maka Astro membayar Rp.500milyar untuk masa tiga musim itu.

Hal ini tentunya membuat shock kalangan publik pencinta sepak bola inggris. Di tengah harga BBM yang kian melonjak, harga beras yang tidak bersahabat, hilangnya minyak tanah dari bumi Indonesia, adanya konversi minyak tanah ke gas yang bernada licik dan mengancam masyarakat untuk membeli gas elpiji yang kian mahal, pendidikan yang semakin mahal dan semakin kapitalis.... eehhh tiba-tiba hiburan pelipur lara pun harus enyah dari layar kaca. Kasihan memang masyarakat kita ini....semuanya serba harus bayar dan bayar

Nah, bagaimana dengan LINUX...?!
Jika suatu saat distro Linux sudah semakin canggih dan mampu memukul kecanggihan Microsoft...
Jika suatu saat linux semakin user friendly dan gampang banget digunakan oleh para pemula...
Jika sudah banyak perusahaan software yang mengembangkan softwarenya kearah Linux....
Jika suatu saat penggemar linux sudah semakin mendunia dan akhirnya Microsoft jadi kalah pamor...

Apakah LINUX masih GRATIS....?
Jangan-jangan LINUX ikut-ikutan seperti Liga Inggris yang harga hak siarnya gak ketulungan mahalnya....

Menurut saya, ini semua adalah resiko yang harus ditanggung oleh negara konsumtif/konsumerisme tinggi seperti Indonesia. Negara kita lebih suka membeli barang siap pakai daripada memikirkan tentang cara memproduksinya.

Malaysia yang pada tahun 1970-an masih "belajar" dan mendatangkan banyak guru dari Indonesia. Kini negara tersebut sudah melesat meninggalkan "sang guru" yang justru masih asyik bermimpi tentang kejayaan masa silamnya. Dulu Malaysia banyak belajar dan berguru kepada Indonesia tentang Komputer, sekarang coba lihat di pasaran....betapa banyak merek VGA card, LAN card, dan lain sebagainya yang bertuliskan "Made in Malaysia". Bahkan Malaysia saat ini telah mampu memproduksi PDA dengan merek Dallab DX8i. Bagaimanakah dengan Indonesia...?

Ketika Indonesia masih berkutat pada upaya pemerataan pendidikan lewat pembangunan SD-SD Inpres, Malaysia sudah berbicara pada tataran peningkatan kualitas pendidikan. Ketika Indonesia masih disibukkan perdebatan soal "ganti menteri ganti kurikulum", Malaysia sudah menggagas apa yang mereka sebut pendemokrasian pendidikan. Lalu, ketika tokoh dan birokrat pendidikan di Indonesia sibuk berdebat tentang apa dan bagaimana sesungguhnya sistem pendidikan nasional-belakangan tentang wacana seputar pendanaan pendidikan minimal 20 persen dari APBN/APBD-Malaysia sudah bicara tentang bagaimana strategi mewujudkan suatu sistem pendidikan bertaraf internasional.

BOLEH jadi akan muncul pertanyaan menggelitik: Mengapa Malaysia yang pada era 1970-an masih "berguru" kepada Indonesia dalam hal pendidikan justru kini lebih maju, yang antara lain tampak pada peringkat indeks pembangunan manusia (human development index/HDI) Malaysia yang sudah melampaui Indonesia?

Hariankompas menyebutkan bahwa, Tilai Balla Udan, yaitu penolong Kanan Khal Ehwal (di Indonesia setingkat wakil kepala sekolah bidang kesiswaan) Murid SMK St Thomas, Kuching, Sarawak, dengan rendah hati mengatakan, hal itu mungkin karena perhatian pihak kerajaan pada dunia pendidikan di negerinya amat besar.

Jika saja para pemimpin negara Indonesia ini bersungguh-sungguh memperhatikan dunia pendidikan dan pembangunan manusia, maka seharusnya kita gak perlu khawatir dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia. Entah itu berupa perubahan sosial, perubahan bisnis, politik dan lain-lain. Para peneliti dan orang pandai Indonesia mungkin gak perlu lagi jual-jual hasil penelitiannya ke luar negeri jika pemerintah Indonesia mau menghargai dan men-support kreativitas mereka.

Indonesia sudah teruji kelemahannya menghadapi badai besar krisis moneter dan malaysia bisa tampil dengan mengesankan. Nah akankah Indonesia mampu tampil mengesankan pada perubahan-perubahan akbar yang mungkin terjadi pada masa mendatang....?

Jawaban cueknya adalah "Yah kita lihat saja nanti...!"
Yang jelas Allah SWT telah berfirman bahwa "Allah tidak akan merubah nasib dari suatu kaum sampai mereka berusaha merubahnya sendiri"

Saya yakin, sesungguhnya banyak para programmer dan jago software di Indonesia yang mampu menciptakan software kelas dunia seperti produk-produk orang barat. Saya yakin SDM Indonesia mampu membuat operating sistem secanggih Linux atau bahkan Microsoft, tetapi sayangnya itu semua belum pernah dimulai dan mungkin belum terfikirkan untuk dikoordinir oleh pemerintah kita. Mungkin para pejabat negara sedang sibuk gonta-ganti kurikulum SD, konsep ujian negara, kepada siapa biaya pendidikan dibebankan, dan hal-hal klasik lainnya.

Bagi Anda para pemilik HATI dan OTAK CERDAS keluaran Bangsa Indonesia, saya mengajak Anda sekalian untuk BANGKIT dan BERGERAK.
Bangkit dan bergerak bukan untuk berdemonstrasi atau turun ke jalan atau melakukan tindakan anarkis, tapi bagaimana kita bangkit dan bergerak untuk menemukan SOLUSI dan mencari jalan keluar untuk bebas dari segala keterpurukan ini.

3 komentar:

Radityo P W said...

gimana kalo seperti kasus novell ama xandros yang kerjasama ama microsoft?

mirip gak ya ?

ya kalo menurut saya.. filosofi dan nafas hidup Free Software akan tetap hidup.. buktinya banyak juga kok distro2 linux yang komersil.. tapi tetep aja distro2 gratis beredaran.. misalnya saja ada distro versi X menngkomersialisasikan distronya.. kita kan tinggal ngoprek distro versi X-1 nya.. yang masih gratis trus buat distro baru...

filosfi FSF akan tetap hidup.. dan GPL dkk yang melindunginya..

tulisan bagus boss
lanjutt...

Dicky Rahardi said...

#Mas Radityo :
Betul pendapat anda, tiap distro yang dibikin komersil tetap akan ada distro lain yang free

Titik tekan saya adalah pada...
Apakah bangsa kita akan terus menjadi bangsa penonton dan pengkonsumsi produk orang lain?

Emang sih, udah ada distro karangan orang indonesia. tapi distro aslinya tetap buatan luar sono

Thanks for ur visited & comment

rydo said...

siiip..
setuju banget, kapan "orang pintar" dari Indonesia tercinta ini bikin OS???(yg kira2 harganya di bawah 100ribu..hehe..)
WIndows terlalu mahal, udah gitu walaupun sudah beli Windows Ori, tetep harus aktivasi lagi....
capek dehh....

Post a Comment

Tanggapan, pesan atau pertanyaan hendaknya disertai dengan identitas (minimal mengisi NAMA dgn men-select bagian Comment as dengan "Name/URL"). Terima kasih

(c) DickyRahardi.Com™, 2006