Antara Reputasi dan Dosa

Perbuatan dosa seringkali bersama kenikmatan-kenikmatan sesaat, ia laksana nila yang menetes dan masuk ke bejana, kemudian merusak manfaat dari isi bejana tersebut.

Sebagaimana perkataan pepatah "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Pepatah tersebut mengisyaratkan tentang bahayanya perbuatan dosa terhadap reputasi yang telah susah payah kita bangun.

Sebuah reputasi amat sangat rentan, karena bisa jadi ia hancur atas sebab kesalahan kecil saja. Padahal untuk membangun sebuah reputasi dibutuhkan waktu yang cukup lama bahkan tahunan.

Secara psikologis hampir setiap manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah mengingat kesalahan orang lain dari pada kesalahan dirinya sendiri. Mudah ingat terhadap kesalahan orang, tetapi menjadi pelupa terhadap kesalahan diri sendiri, itulah sifat umum dari makhluk yang bernama manusia. Hal ini lah yang menjadi katalisator untuk mempercepat reaksi perusakkan dari nila setitik terhadap susu sebelanga, karena orang yang ingat biasanya juga akan membicarakannya kepada orang lain.


Jika sebuah reputasi telah kita nodai sendiri dengan kesalahan atau dosa tertentu dan kesalahan tersebut tidaklah merugikan orang lain, maka saya teringat dengan kata-kata yang sering kali diucapkan dalam mimbar2 khutbah dan majelis ta'lim yaitu "Kullu Banni Adam Khoththo, wa Khoiru Khoththoina At-Tawabun". Kata-kata tersebut bersumber dari Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam yang artinya : Seluruh anak adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.

Setiap manusia pastilah pernah berbuat salah, dan bagi yang pernah berbuat salah terdapat sikap yang perlu ditempuh, antara lain adalah :

TAUBAT

Dari Asma bin Al-Hakam Al-Fazari, dia bercerita, aku pernah mendengar Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya aku adalah seseorang yang jika mendengar sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah memberiku manfaat dari hadits tersebut sesuai dengan kehendak-Nya untuk memberi manfaat kepadaku. Dan jika ada seseorang dari Sahabatnya menyampaikan hadits maka aku memintanya bersumpah. Jika dia mau bersumpah kepadaku, maka aku akan membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dan Abu Bakar adalah seorang yang jujur, dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidaklah seseorang melakukan suatu perbuatan dosa, lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci, kemudian mengerjakan shalat, dan setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah – Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” [Ali-Imran : 135]


BERHENTI MENGURUS DOSA MILIK ORANG LAIN

Betapa pedihnya dosa ataupun kebodohan, dan betapa besarnya resiko yang perlu ditanggung khususnya dalam hal reputasi, hal ini adalah sangat memalukan dan ketika kita mengingatnya maka rasanya kita ingin berteriak keras dan berharap teriakan tersebut dapat melepaskan kesesakkan dada kita akibat perbuatan masa silam.

Jika kita termasuk orang yang pernah berbuat kesalahan, dosa ataupun kebodohan, maka ketika kita melihat kesalahan / dosa orang lain; sudah sepantasnyalah kita mengatakan kepada diri sendiri :

"Wahai diri, sesungguhnya padamu juga terdapat dosa dan kebodohan; maka berhentilah untuk mengurus dan mengingat-ingat kesalahan dan dosa orang lain.


Jadikan pedihnya akibat dosa untuk bertaubat
Jadikan rasa sakitnya omongan orang lain atas diri kita sebagai pengalaman, sehingga kita tidak tega menjatuhkan reputasi orang lain atas ke-khilafannya. Bila kita memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup maka nasihatilah orang yang berbuat salah tersebut agar kembali ke jalan yang lurus, tapi jika kita tidak kuasa maka minimal kita kendalikan diri kita sehingga aibnya tidak tersebar.

Lain masalah, tentu lain sikap dan lain pula solusinya. Jika ada orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan maka tentunya ada cara tersendiri untuk menghadapinya, yaitu : [Klik Disini]

Semoga dengan sikap TAUBAT dan MUDAH MELUPAKAN KESALAHAN ORANG LAIN, Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan Allah memberikan jalan kemudahan kepada kita untuk memperbaiki diri.

Sebuah Renungan




0 komentar:

Post a Comment

Tanggapan, pesan atau pertanyaan hendaknya disertai dengan identitas (minimal mengisi NAMA dgn men-select bagian Comment as dengan "Name/URL"). Terima kasih

(c) DickyRahardi.Com™, 2006