Mendidik Anak Dengan Sistem Barter


oleh : Dicky Rahardiantoro



Pendidikan anak merupakan hal yang tidak boleh terlewati dalam agenda keluarga. Di dunia komputer, pendidikan dapat diibaratkan seperti software di dalam hardware. Tanpa dilengkapi software yang handal, sebuah komputer keluaran paling baru dengan perangkat yang canggih hanya akan menjadi hiasan tanpa fungsi. Ketika Anda membeli seperangkat Laptop baru, apakah yang akan Anda kerjakan jika Laptop tersebut tidak dilengkapi dengan software ?

Pendidikan adalah hal yang sangat vital, karena keberadaan faktor pendidikan merupakan bagian dari sikap untuk memanusiakan manusia.

Pendidikan anak tidak cukup hanya disekolah saja. Sebagai orangtua kita wajib berusaha memberikan pendidikan mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita.

Rumah adalah sekolah pertama bagi anak sebelum ia mendapatkan pendidikan formal di sekolah dan pendidikan sosial di lingkungan masyarakat. Anak merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu orang tua dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

Sebagian orang tua ada yang selalu memenuhi setiap keinginan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik

Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Bahkan sebagian anak ada yang protes berguling-guling di lantai ketika keinginannya tidak terpenuhi, jika hal tersebut dilakukan di tempat umum maka akan membuat malu orang tuanya. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik

Pada sisi orang tuanya, khususnya posisi ayah. Seringkali kita dapati profil ayah yang sukses dalam karir telah merasa cukup memperhatikan pendidikan anak dengan memenuhi semua permintaan anaknya, menyekolahkan anaknya di sekolahan termahal serta merasa tenang ketika keluarganya dapat tinggal di rumah mewah dengan berkendaraan mobil berkelas. Budaya gengsi menjadi salah satu indikator utama untuk menentukan sekolah pilihan bagi anak2 mereka. Fenomena orang tua seperti ini justru banyak membuat anak menjadi tergelincir, terjebak kepada ketergantungan terhadap harta orang tuanya, prestasi sekolahnya rendah karena merasa selalu aman, salah pergaulan dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru merasa kurang kasih sayang dan perhatian.

Beberapa masalah di atas mungkin pernah kita temui di lingkungan masyarakat, keluarga, sanak famili ataupun terjadi pada keluarga teman dan kerabat kita. Terlalu kasih terhadap anak untuk memenuhi tuntutannya atau terlalu kikir terhadap anak merupakan masalah umum yang terjadi pada kehidupan keluarga. Jalan terbaik adalah jalan pertengahan, tidak kikir tapi juga tidak terlalu bersangatan dalam mengungkapkan kasih sayang berupa harta dan pemenuhan kebutuhan mereka.

Menanggapi permasalahan di atas, saya memiliki pemikiran untuk menerapkan sistem barter kepada anak. Artinya, sesuatu yang ingin diraih oleh anak haruslah setara dengan jerih payah atau prestasi yang mampu ia capai.

Mengapa saya lebih cenderung memilih istilah barter daripada upah ?
Karena istilah “upah” telah banyak digunakan dikalangan umum yang lebih mencerminkan motivasi seseorang untuk mencari uang. Motivasi mencari uang memang bukanlah hal yang jelek, tetapi sangat tidak tepat jika seorang anak meraih prestasi karena uang. Kita harus menanamkan bahwa prestasi adalah bekal terbaik baginya untuk kehidupannya mendatang.

Istilah “barter” atau “bertukar produk” saat ini jarang digunakan, ini adalah kesempatan kita untuk menjelaskan istilah barter kepada anak. Kita arahkan bahwa sistem barter adalah saling bertukar produk terbaik. Kita tanamkan bahwa seorang anak produk terbaiknya adalah ke-Imanan, ke-Taqwa’an dan prestasi belajar yang baik. Bila ia mampu menunjukkan produk terbaiknya maka orang tua akan berusaha membelikan produk terbaik pula sesuai dengan rizki yang ia peroleh dari Allah. Bila istilah barter terasa kaku maka kita bisa menggantikannya dengan istilah “hadiah” atau dapat juga menyampaikannya secara tersirat.

Misalnya, ketika seorang anak minta dibelikan sepeda baru oleh ayahnya maka sebaiknya orang tua memanfaatkan momen tersebut dengan mengajak anak untuk berinstropeksi terhadap prestasi yang sementara ini diraih anaknya.

Sang ayah dapat melontarkan beberapa pertanyaan / pernyataan, misalnya :
“Ardi ingin sepeda seperti apa ?”
“Kenapa sih kok tiba-tiba ingin beli sepeda ?”

Biarkan si-anak menjelaskan kebutuhannya tersebut, kemudian kita beri ia penjelasan dan pengertian. Adapun beberapa hal yang perlu kita tanamkan pada diri anak adalah :

a. Perlunya bekerja dan berusaha untuk mendapatkan uang; dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak, seorang anak perlu diberi pengertian bahwa tiap lembar uang yang digunakan untuk membeli barang adalah hasil dari proses bekerja dan berusaha. Hal ini perlu ditanamkan sejak dini kepada anak agar anak memiliki gambaran yang jelas tentang perlunya suatu pengorbanan dan usaha untuk memperoleh uang, sehingga anak dapat menghargai nilai uang dan terdidik sejak dini untuk mau bekerja

b. Pentingnya seorang anak meraih prestasi. Prestasi belajar anak dan kemampuan / penguasaan terhadap sesuatu hal positif, perlu menjadi agenda penting tiap orang tua dalam memotivasi anak-anaknya. Tanamkan kepada anak kita bahwa tanpa bekerja / berusaha maka tidak mungkin kebutuhan kita dapat terpenuhi, tanpa prestasi maka tidak mungkin kita dapat bekerja dengan baik. Ketika anak sudah mulai memahami apa yang kita maksudkan, maka langkah selanjutnya adalah memberikan penawaran kepada anak, misalnya :

“Baiklah, jika memang benar-benar ingin punya sepeda, insya Allah akan ayah belikan”
“Tapi ayah ingin kamu berusaha untuk mendapatkan sepeda itu”
“Saat ini kegiatan mainmu sudah terlalu banyak dan bahkan sampai-sampai jarang tidur siang, apa jadinya kalo sekarang ini dibelikan sepeda baru?”
“Mungkin saja kamu akan semakin asyik bermain, gak sempat lagi belajar karena sudah kecapekan main”
“Alangkah baiknya jika Ardi punya sepeda baru, setelah mampu untuk mengatur jadwal belajar dan bermain”
“Seorang anak yang belajarnya teratur dan menyukai pelajarannya, insya Allah ia akan berprestasi dan mendapat rangking”
“Jadi sebaiknya sepeda barunya setelah Ardi mampu belajar yang baik dan mendapat rangking saja ya...”


Pada saat penanaman prestasi ini, maka orang tua telah mengajak anaknya untuk melaksanakan sistem barter walaupun secara tersirat.

c. Pentingnya menanamkan motivasi yang baik kepada anak. Motivasi adalah sangat penting, karena baik buruknya motivasi akan berpengaruh pada semangat gerak dan tindakan anak. Ketika anak merasa pesimis terhadap kemampuannya, ketika anak protes terhadap birokrasi orang tuanya, atau ketika anak mulai tidak sabar dengan prosedur yang diberlakukan orang tuanya, maka kepandaian orang tua dalam memberikan penjelasan dan motivasi kepada anak akan sangat penting. Misalnya :

Si-anak berkata :
“Mana mungkin aku bisa mengalahkan prestasinya teman-temanku?”
“Mereka sekarang sudah mencapai Iqra’ 3 untuk bacaan Al-Qur’an, sedangkan aku baru Iqra’ 1; mereka sudah lancar membaca huruf latin sedangkan aku masih sering salah”

Dalam kondisi psikis yang cenderung pesimis seperti ini, maka dorongan orang tua untuk memotivasi dan membesarkan hati anaknya perlu untuk dilakukan, misalnya :
“Dulu waktu Ardi lahir, Ardi gak bisa apa-apa, bisanya hanya menangis”
“Pipis nangis, takut nangis, lapar nangis, hauspun kamu nangis”
“Sekarang kamu sudah bisa pipis sendiri di kamar mandi”
“Sudah bisa minta makan kalo perutnya lapar, sudah bisa ngambil gelas dan air sendiri di meja makan”
“Ketika kamu takut, kamu sudah bisa lari dan bahkan kadang kamu lempar batu temanmu yang suka nakutin kamu”

“Dulu teman-temanmu juga gak bisa baca Al-Qur’an”
“Karena mereka pandai mengatur waktu atau nurut dengan aturan waktu belajar dan bermain, maka mereka bisa lekas pandai membaca”
“Ardi tertinggal dengan mereka, bukan karena Ardi bodoh”
“Ardi cuma kalah dalam pengaturan waktu belajar dan bermain”
“Waktu bermain sangat banyak, tetapi ketika masuk waktu belajar; Ardi sudah kecapekan”
“Nah, wajarlah jika akhirnya tertinggal dengan teman-temannya”
“Oleh sebab itu perbaiki cara belajarmu dulu, ikuti perintah ibumu dan ketika belajar fikiranmu jangan sampai terbawa ke acara mainmu”
“Selain itu, Ardi perlu juga berdo’a kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar dan meraih prestasi”



Lalu bagaimana halnya menghadapi anak yang cenderung memprotes kebijakan orang tuanya, misalnya dengan mengatakan :

“Ah ayah, kok susah amat sih !”
“Tuu lihat, si-Tono; Baru saja ia dibelikan sepeda baru oleh ayahnya, padahal Tono bukan anak yang prestasinya bagus. Ia di kelas cuma rangking-18 dan masih jauh lebih bagus nilaiku dari pada dia”
“Enak ya.. punya Bapak seperti Bapaknya si-Tono”
“Minta ini dibeliin, minta itu dibeliin, Bapaknya memang kaya raya”

Menghadapi protes keras anak terhadap kita, maka hendaknya orang tua mengambil sikap lebih tenang, dan memberikan pengertian kepada anak dengan memberikan satu atau beberapa "Bad Practice" yang terjadi di masyarakat. Banyak hal yang bisa diambil contoh dari kegagalan pendidikan anak di masyarakat dan pandai-pandainya kita sebagai orang tua untuk menyusunnya kedalam bahasa yang dimengerti anak.

d. Tunjukkan rasa sayang kita kepadanya. Hal ini perlu dilakukan agar anak semakin yakin bahwa aturan yang kita buat bukanlah karena kita ingin mempersulit dirinya, tetapi karena kita sayang padanya. Secara bertahap kita perlu meyakinkan dirinya bahwa hal ini adalah salah satu wujud sayang kita padanya.

e. Pelurusan niat. Ini adalah hal tersulit yang harus dilakukan secara bertahap, berlahan tapi pasti. Reward bukanlah tujuan tetapi reward adalah stimulan yang suatu saat tidak lagi diberikan. Bila anak sampai berpersepsi dan terbentuk kebiasaan bahwa reward adalah tujuan dari pencapaian prestasinya, maka boleh jadi anak tersebut terpola untuk selalu menuntut reward dan niat anak menjadi tidak lurus / tulus dalam meraih prestasi. Orang tua akan mencapai keberhasilan gemilang jika ia berhasil menanamkan kepada anak bahwa niat meraih prestasi adalah semata untuk Ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Demikian curahan pemikiran yang dapat saya sumbangkan dalam upaya mencetak generasi muda yang lebih baik dari generasi saat ini. Anak adalah buah hati, anak adalah penerus generasi, anak bukanlah sekedar hasil percintaan dua hati tetapi anak adalah penerima tongkat estafet perjuangan orang tuanya.

Baca Selengkapnya