Mendidik Anak Dengan Sistem Barter


oleh : Dicky Rahardiantoro



Pendidikan anak merupakan hal yang tidak boleh terlewati dalam agenda keluarga. Di dunia komputer, pendidikan dapat diibaratkan seperti software di dalam hardware. Tanpa dilengkapi software yang handal, sebuah komputer keluaran paling baru dengan perangkat yang canggih hanya akan menjadi hiasan tanpa fungsi. Ketika Anda membeli seperangkat Laptop baru, apakah yang akan Anda kerjakan jika Laptop tersebut tidak dilengkapi dengan software ?

Pendidikan adalah hal yang sangat vital, karena keberadaan faktor pendidikan merupakan bagian dari sikap untuk memanusiakan manusia.

Pendidikan anak tidak cukup hanya disekolah saja. Sebagai orangtua kita wajib berusaha memberikan pendidikan mental-spiritual dan kita harus dapat menjadi teladan yang baik untuk anak kita.

Rumah adalah sekolah pertama bagi anak sebelum ia mendapatkan pendidikan formal di sekolah dan pendidikan sosial di lingkungan masyarakat. Anak merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu orang tua dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

Sebagian orang tua ada yang selalu memenuhi setiap keinginan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik

Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Bahkan sebagian anak ada yang protes berguling-guling di lantai ketika keinginannya tidak terpenuhi, jika hal tersebut dilakukan di tempat umum maka akan membuat malu orang tuanya. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik

Pada sisi orang tuanya, khususnya posisi ayah. Seringkali kita dapati profil ayah yang sukses dalam karir telah merasa cukup memperhatikan pendidikan anak dengan memenuhi semua permintaan anaknya, menyekolahkan anaknya di sekolahan termahal serta merasa tenang ketika keluarganya dapat tinggal di rumah mewah dengan berkendaraan mobil berkelas. Budaya gengsi menjadi salah satu indikator utama untuk menentukan sekolah pilihan bagi anak2 mereka. Fenomena orang tua seperti ini justru banyak membuat anak menjadi tergelincir, terjebak kepada ketergantungan terhadap harta orang tuanya, prestasi sekolahnya rendah karena merasa selalu aman, salah pergaulan dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru merasa kurang kasih sayang dan perhatian.

Beberapa masalah di atas mungkin pernah kita temui di lingkungan masyarakat, keluarga, sanak famili ataupun terjadi pada keluarga teman dan kerabat kita. Terlalu kasih terhadap anak untuk memenuhi tuntutannya atau terlalu kikir terhadap anak merupakan masalah umum yang terjadi pada kehidupan keluarga. Jalan terbaik adalah jalan pertengahan, tidak kikir tapi juga tidak terlalu bersangatan dalam mengungkapkan kasih sayang berupa harta dan pemenuhan kebutuhan mereka.

Menanggapi permasalahan di atas, saya memiliki pemikiran untuk menerapkan sistem barter kepada anak. Artinya, sesuatu yang ingin diraih oleh anak haruslah setara dengan jerih payah atau prestasi yang mampu ia capai.

Mengapa saya lebih cenderung memilih istilah barter daripada upah ?
Karena istilah “upah” telah banyak digunakan dikalangan umum yang lebih mencerminkan motivasi seseorang untuk mencari uang. Motivasi mencari uang memang bukanlah hal yang jelek, tetapi sangat tidak tepat jika seorang anak meraih prestasi karena uang. Kita harus menanamkan bahwa prestasi adalah bekal terbaik baginya untuk kehidupannya mendatang.

Istilah “barter” atau “bertukar produk” saat ini jarang digunakan, ini adalah kesempatan kita untuk menjelaskan istilah barter kepada anak. Kita arahkan bahwa sistem barter adalah saling bertukar produk terbaik. Kita tanamkan bahwa seorang anak produk terbaiknya adalah ke-Imanan, ke-Taqwa’an dan prestasi belajar yang baik. Bila ia mampu menunjukkan produk terbaiknya maka orang tua akan berusaha membelikan produk terbaik pula sesuai dengan rizki yang ia peroleh dari Allah. Bila istilah barter terasa kaku maka kita bisa menggantikannya dengan istilah “hadiah” atau dapat juga menyampaikannya secara tersirat.

Misalnya, ketika seorang anak minta dibelikan sepeda baru oleh ayahnya maka sebaiknya orang tua memanfaatkan momen tersebut dengan mengajak anak untuk berinstropeksi terhadap prestasi yang sementara ini diraih anaknya.

Sang ayah dapat melontarkan beberapa pertanyaan / pernyataan, misalnya :
“Ardi ingin sepeda seperti apa ?”
“Kenapa sih kok tiba-tiba ingin beli sepeda ?”

Biarkan si-anak menjelaskan kebutuhannya tersebut, kemudian kita beri ia penjelasan dan pengertian. Adapun beberapa hal yang perlu kita tanamkan pada diri anak adalah :

a. Perlunya bekerja dan berusaha untuk mendapatkan uang; dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak, seorang anak perlu diberi pengertian bahwa tiap lembar uang yang digunakan untuk membeli barang adalah hasil dari proses bekerja dan berusaha. Hal ini perlu ditanamkan sejak dini kepada anak agar anak memiliki gambaran yang jelas tentang perlunya suatu pengorbanan dan usaha untuk memperoleh uang, sehingga anak dapat menghargai nilai uang dan terdidik sejak dini untuk mau bekerja

b. Pentingnya seorang anak meraih prestasi. Prestasi belajar anak dan kemampuan / penguasaan terhadap sesuatu hal positif, perlu menjadi agenda penting tiap orang tua dalam memotivasi anak-anaknya. Tanamkan kepada anak kita bahwa tanpa bekerja / berusaha maka tidak mungkin kebutuhan kita dapat terpenuhi, tanpa prestasi maka tidak mungkin kita dapat bekerja dengan baik. Ketika anak sudah mulai memahami apa yang kita maksudkan, maka langkah selanjutnya adalah memberikan penawaran kepada anak, misalnya :

“Baiklah, jika memang benar-benar ingin punya sepeda, insya Allah akan ayah belikan”
“Tapi ayah ingin kamu berusaha untuk mendapatkan sepeda itu”
“Saat ini kegiatan mainmu sudah terlalu banyak dan bahkan sampai-sampai jarang tidur siang, apa jadinya kalo sekarang ini dibelikan sepeda baru?”
“Mungkin saja kamu akan semakin asyik bermain, gak sempat lagi belajar karena sudah kecapekan main”
“Alangkah baiknya jika Ardi punya sepeda baru, setelah mampu untuk mengatur jadwal belajar dan bermain”
“Seorang anak yang belajarnya teratur dan menyukai pelajarannya, insya Allah ia akan berprestasi dan mendapat rangking”
“Jadi sebaiknya sepeda barunya setelah Ardi mampu belajar yang baik dan mendapat rangking saja ya...”


Pada saat penanaman prestasi ini, maka orang tua telah mengajak anaknya untuk melaksanakan sistem barter walaupun secara tersirat.

c. Pentingnya menanamkan motivasi yang baik kepada anak. Motivasi adalah sangat penting, karena baik buruknya motivasi akan berpengaruh pada semangat gerak dan tindakan anak. Ketika anak merasa pesimis terhadap kemampuannya, ketika anak protes terhadap birokrasi orang tuanya, atau ketika anak mulai tidak sabar dengan prosedur yang diberlakukan orang tuanya, maka kepandaian orang tua dalam memberikan penjelasan dan motivasi kepada anak akan sangat penting. Misalnya :

Si-anak berkata :
“Mana mungkin aku bisa mengalahkan prestasinya teman-temanku?”
“Mereka sekarang sudah mencapai Iqra’ 3 untuk bacaan Al-Qur’an, sedangkan aku baru Iqra’ 1; mereka sudah lancar membaca huruf latin sedangkan aku masih sering salah”

Dalam kondisi psikis yang cenderung pesimis seperti ini, maka dorongan orang tua untuk memotivasi dan membesarkan hati anaknya perlu untuk dilakukan, misalnya :
“Dulu waktu Ardi lahir, Ardi gak bisa apa-apa, bisanya hanya menangis”
“Pipis nangis, takut nangis, lapar nangis, hauspun kamu nangis”
“Sekarang kamu sudah bisa pipis sendiri di kamar mandi”
“Sudah bisa minta makan kalo perutnya lapar, sudah bisa ngambil gelas dan air sendiri di meja makan”
“Ketika kamu takut, kamu sudah bisa lari dan bahkan kadang kamu lempar batu temanmu yang suka nakutin kamu”

“Dulu teman-temanmu juga gak bisa baca Al-Qur’an”
“Karena mereka pandai mengatur waktu atau nurut dengan aturan waktu belajar dan bermain, maka mereka bisa lekas pandai membaca”
“Ardi tertinggal dengan mereka, bukan karena Ardi bodoh”
“Ardi cuma kalah dalam pengaturan waktu belajar dan bermain”
“Waktu bermain sangat banyak, tetapi ketika masuk waktu belajar; Ardi sudah kecapekan”
“Nah, wajarlah jika akhirnya tertinggal dengan teman-temannya”
“Oleh sebab itu perbaiki cara belajarmu dulu, ikuti perintah ibumu dan ketika belajar fikiranmu jangan sampai terbawa ke acara mainmu”
“Selain itu, Ardi perlu juga berdo’a kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar dan meraih prestasi”



Lalu bagaimana halnya menghadapi anak yang cenderung memprotes kebijakan orang tuanya, misalnya dengan mengatakan :

“Ah ayah, kok susah amat sih !”
“Tuu lihat, si-Tono; Baru saja ia dibelikan sepeda baru oleh ayahnya, padahal Tono bukan anak yang prestasinya bagus. Ia di kelas cuma rangking-18 dan masih jauh lebih bagus nilaiku dari pada dia”
“Enak ya.. punya Bapak seperti Bapaknya si-Tono”
“Minta ini dibeliin, minta itu dibeliin, Bapaknya memang kaya raya”

Menghadapi protes keras anak terhadap kita, maka hendaknya orang tua mengambil sikap lebih tenang, dan memberikan pengertian kepada anak dengan memberikan satu atau beberapa "Bad Practice" yang terjadi di masyarakat. Banyak hal yang bisa diambil contoh dari kegagalan pendidikan anak di masyarakat dan pandai-pandainya kita sebagai orang tua untuk menyusunnya kedalam bahasa yang dimengerti anak.

d. Tunjukkan rasa sayang kita kepadanya. Hal ini perlu dilakukan agar anak semakin yakin bahwa aturan yang kita buat bukanlah karena kita ingin mempersulit dirinya, tetapi karena kita sayang padanya. Secara bertahap kita perlu meyakinkan dirinya bahwa hal ini adalah salah satu wujud sayang kita padanya.

e. Pelurusan niat. Ini adalah hal tersulit yang harus dilakukan secara bertahap, berlahan tapi pasti. Reward bukanlah tujuan tetapi reward adalah stimulan yang suatu saat tidak lagi diberikan. Bila anak sampai berpersepsi dan terbentuk kebiasaan bahwa reward adalah tujuan dari pencapaian prestasinya, maka boleh jadi anak tersebut terpola untuk selalu menuntut reward dan niat anak menjadi tidak lurus / tulus dalam meraih prestasi. Orang tua akan mencapai keberhasilan gemilang jika ia berhasil menanamkan kepada anak bahwa niat meraih prestasi adalah semata untuk Ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Demikian curahan pemikiran yang dapat saya sumbangkan dalam upaya mencetak generasi muda yang lebih baik dari generasi saat ini. Anak adalah buah hati, anak adalah penerus generasi, anak bukanlah sekedar hasil percintaan dua hati tetapi anak adalah penerima tongkat estafet perjuangan orang tuanya.

31 komentar:

agus said...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Makasih artikelnya mas, sangat bermanfaat.

Wassalam Wr. Wb.

Kusuma said...

Tulisan menarik Pak.

tezar said...

Assalamu'alaykum wr.wb.
Menarik apa yang mas Dicky tulis. Lalu bagaimana dengan sistem hukuman, mas?
Belum punya pengalaman ttg mendidik anak, tapi insya Allah berguna kalau kelak punya anak, hehehe

Dicky Rahardi said...

#Mas Agus Suhartono :
Wa’alaykumussalam mas Agus
Terima kasih kembali…
Oh ya maaf saya gak bisa banyak bantu di MIFTA lagi, pasti Mas Agus faham alasannya…
Tak bantu do’a aja ya, moga2 MIFTA dapat menggapai visi-nya dengan baik dan diridho’i Allah
Salam untuk teman2 MIFTA ya…
Wassalam,

#Mas Kusuma :
Moga bermanfaat ya….

#Mas Tezar :
sikap halus dan keras saya rasa harus berimbang. Hukuman adalah bagian dari pendidikan asalkan dilakukan dengan kematangan, misalnya : pada umur 10 tahun anak harus sudah menunaikan sholat 5 waktu, jika tidak sholat maka dapat diberi hukuman. Jika sikap ortu thd anak terlalu halus dan tidak pernah menunjukkan ketegasan, boleh jadi anak menjadi generasi manja dan sulit diarahkan....

Eko Magelang said...

Assalamu'alaykum Wr.Wb.
Setuju banget dng tulisan Pak Dicky……, jadi pengen cepet2 mempraktekkan doakan ya pak moga Alloh melindungi si junor slama dalam kandungan & mengeluarkan dlm kandungan ibunya pd waktu yang tlah ditetapkan dlm keadaan sehat & selamat………
Pak ini aku kirim file power point Belajar dari keluarga Muttamimul Ula (yg sukses mendidik ke 10 anaknya) yang isinya bagus banget
1.Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hafal Quran usia 13 tahun, sekarang masuk Program PPDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, Peserta Pertamina Youth Progamme 2OO7 dari ITB
2.Faris Jihady Hanifa, 2O tahun, semester 4 Fakultas syariah LIPIA, hafal Quran usia 1O tahun Predikat mumtaz, Juara 1 lomba Tahfidz 3O Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi Arabia, Juara 1 Lomba OlimPiade IPS tingkat SMA 2OO3
3.Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 Fakultas Ushuluddin Univ Al Azhar Kairo, hafal quran usia 16 tahun. Lulusan Terbaik Husnul Khotimah 2OO6
4.Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, hafal 1O Juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2OO4
5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 MA Husnul Khotimah, hafal 6 Juz, pelajar Teladan SDIT Al Hikmah 2OO2, Lulusan Terbaik MTs Al Kahfi 2OO6
6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs Al Kahfi, Hafal 8 Juz, Juara Olimpiade IpA tngkat SD se Jaksel 2OO3, 4 penghargaan dari Al Kahfi, Tahfidz Terbaik, Santri Favorit, Santri Teladan, dan Juara Umum
7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, hafal 5 Juz, rangking 1 di kelasnya
8.Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al-Hikmah, hafal 25 Juz
9.Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, hafal 2 Juz
1O.Himmaty Muyasssarah, 7 tahun hafal 1juz
11.Hasna wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6
Wassalam Wr. Wb.

Dicky Rahardi said...

#Mas Eko:
Oh ya mas saya juga sudah kirim email nama-nama islami, mudah2 bisa jadi tambahan reference. trus literatur yang berkaitan dengan amalan2 saat mengandung bisa di dapati dari buku-buku terbitan At-Tibyan dan Al-Kautsar. Kemarin saya mampir ke Ponpes Imam Bukhari Kantor Redaksi Majalan As-Sunnah, disana banyak banget buku2 yang berkaitan dengan hal tersebut, kapan2 main kesana aja. Terima kasih

bayu s said...

Assalamualaikum Wr Wb

Apa kabar pak dicky. This is your friend in Depok. I find this website when I searching in google. Well, This is quite a good website. Oh ya, gw punya kabar nih. Pemerintah membuka kesempatan kepada siapa saja untuk mengajukan naskah buku pelajaran untuk diajukan ke BSNP. Bagi yang lulus penilaian akan dibeli hak ciptanya oleh pemerintah dan diberi honor 100 juta. salah satu naskah yang akan diuji adalah pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk SMP. Kalo ente tertarik buat buku gw bisa bantu. Ini no e-mail gw bayushari@gmail.com.

Thanks, Bayu

Dicky Rahardi said...

# Pak Bayu :
Wa'alaykumussalam

Jazakallahu khoiran atas informasinya. Senang rasanya saya dikunjungi oleh sahabat lama. Info selanjutnya tak tunggu ya...

Salam

Dicky R

ida said...

Assalamu'alaiku Wr Wb

bagi saya artikel yang bapak tulis sangat bagus dan bermanfaat, tetapi ada beberapa kondisi yang sulit untuk di terapkan terutama bagi saya sebagai seorang ibu yang bekerja dengan frekuensi pertemuan dengan keluarga yang cuma seminggu sekali. terkadang waktu yang cuma sehari di hari libur membuat saya ingin memanjakan anak saya. dan saya sangat sulit untuk tidak menuruti keinginan anak, mohon masukan pak..... he.....

Dicky Rahardi said...

# Mbak Ida :

Wa'alaykumussalam warahmatullah

Sebenarnya pertanyaan mbak Ida lebih pantas dijawab oleh pakar pendidikan anak atau konsultan anak, atau mungkin para wanita karir yang sudah sukses dalam mendidik anak2nya hingga dewasa.

Monggo, dibuka kesempatan seluas-luasnya kpd publik untuk memberikan sumbang saran....he..he.he

Bagi saya, wanita bekerja luar rumah, luar daerah atau hanya sekedar mengisi waktu senggang adalah tergantung dari "Konsep dan Pandangan Suami" sebagai kepala rumah tangga.

Kalo saya berprinsip, tugas WANITA adalah sebagai : (1) Istri bagi Suami (2) Ibu bagi Anak (3) Guru atau pendidik (4) Penjernih akal dan pikiran (5) Memelihara harta suami

Nah jika harus bekerja, maka itu bukan tugas utama kaum wanita tetapi karena faktor EMERGENCY saja; ketika keadaan sudah tidak emergency maka sebaiknya wanita kembali ke rumah.

Ada juga diantara wanita yang bekerja hanya untuk mengisi waktu senggang supaya tidak jenuh dan ada pula yang menjadikan hal tsb sebagai kebutuhan pokok.

Singkatnya, "wanita bekerja" selalu ada korelasi thd "perhatian dan pemenuhan hak psikologis anak". Tampaknya para wanita karir perlu banyak mencari pendekatan yang tepat bagi mereka untuk memenuhi tugas pokok mereka.

Wallahu a'lam bish showwab

Dayat said...

Dayat,...saya sangat setuju dengan apa yang saudara katakan. kalau bisa kita mendidik anak kita sejak dini. Sekarang ini banyak kita lihat khususnya orang yang memiliki kelebihan materi ....;), jika si anak meminta sesuatu langsung saja orang tua sianak memberikannya...akhirnya, si anak tidak terbiasa untuk mendapatkan sesuatu dengan berusaha. Kalau saya menjadi Ayah kelak, dan si anak ingin meminta sesuatu kepada saya, pasti saya akan menanamkan motivasi dahulu pada mereka...seperti, " anakku, kalau engkau mau memiliki barang itu, engkau harus belajar dan mendapat juara 1 " (misalnya)...secara otomatis, si anak pasti akan bersemangat untuk meraihnya...dan kalau ternyata si anak mampu meraihnya, saya mesti memberikan apa yang diinginkannya sebagai reward....seperti kita sajalah sebagai orang produktif atau dewasa, kalau kita bekerja di perusahaan pasti khan kita mendapatkan upah? nah, bagaimana juga kalau kita bekerja overnight atau lembur? pasti kita juga mendapatkan insentif, selanjutnya, bagaimana kalau kita memiliki nilai penjualan yang paling tinggi?pasti kita juga akan memperoleh reward dari sang pimpinan. Nah, hal ini tidak berbeda juga dengan Rumah tangga, istilah saya (Perusahaan kecil lah...)hehehehe...sukses buat artikelnya pak.....

islamarket said...

Mau beli buku Hafal Al Qur’an dalam Sebulan?
Hubungi:
Azmi Yudianto
0856 4117 4798
ato hubungi lewat email:
fariskmm@yahoo.co.id
yudi_321@yahoo.co.id
http://islamarket.wordpress.com

Harga Rp. 22.000
Biaya Kirim ditanggung pembeli.

islamarket said...

Mau beli buku Hafal Al Qur’an dalam Sebulan?
Hubungi:
Azmi Yudianto
0856 4117 4798
ato hubungi lewat email:
fariskmm@yahoo.co.id
yudi_321@yahoo.co.id
http://islamarket.wordpress.com

Harga Rp. 22.000
Biaya Kirim ditanggung pembeli.

Anonymous said...

Mas Dicky, mungkin mas eko magelang bisa kirim artikel. komentar aja udah segitu.. selamat yo... momongane cewek/cowok

Sukses selalu

Lies-Purwokerto

usus lengket said...

boleh juga nih informasinya

cara tuntaskan penyakit jantung said...

artikelnya bagus,,,
terimakasih atas informasinya
izin share_

obat alami tuntaskan jerawat dan bekasnya said...

artikelnya bagus,terimakasih atas informasinya
izin share gan_

ai jihan hanifah fadilah said...

terimakasih atas informasinya.
izin share

cara cepat tuntaskan rasa sakit pasca opersi caesar said...

thanks atas infonya gan
:)

obat ampuh tuntaskan luka bakar dengan cepat said...

Makasih infonya...

cara cepat tuntaskan asma said...



makasih infonya

obat vitiligo alami said...

makasih infonya menarik,,,

Cara tuntaskan penyakit asam urat alami said...

MAKASIH INFONYA

obat mujarab atasi tulang keropos said...

ijin nyimak

car tuntaskan penyakit jantung koroner secara alami said...

ijin menyimak

cara ampuh tuntaskan kolesterol said...

ijin nyimak and share jga ya

zihan said...

ijin share

ziekosta said...

makasih infonya

ziekosta said...

ijin nyimak
thanks infonya

obat maag kronis yang aman said...

terima kasih banyak gan untuk infonya

Kampung Inggris said...

makasih pak atas infonya, doa nya bagus, ntar ane praktekan

Post a Comment

Tanggapan, pesan atau pertanyaan hendaknya disertai dengan identitas (minimal mengisi NAMA dgn men-select bagian Comment as dengan "Name/URL"). Terima kasih

(c) DickyRahardi.Com™, 2006